Filosopi Gondrong
Tahun 2016 lalu, pada bulan Februari saya memutuskan untuk gondrongin rambut. Sebenarnya niat itu sudah ada sejak 2015, bahkan 2014, bahkan sejak SMA. "saya nanti kuliah mau gondrong, ah!" begitu pikir saya. Dan dimulailah proses itu.
Tidak mudah. Kusut, lembab, gatal, sudah menjadi tamu harian. Belum lagi keinginan untuk cukur itu suka muncul. Dan lagi orang-orang sekitar yang sering melihat dengan aneh ke rambut saya. Teman-teman (pada saat itu) juga suka nyuruh cukur, "cukur woi! Udah kayak jemb#t gitu!". Hadeh!
Tapi gelora untuk gondrong itu lebih kuat. "Kapan lagi gondrong ya nggak?!" pikir saya. Semua kendala itu saya hadapi dengan semangat. Dan akhirnya, 'bentukan'nya sudah mulai terlihat di akhir tahun, pada oktober-november kira-kira. Mulai bisa diikat, 'bandel'nya berkurang dikit, dikit banget. Mulai bagus lah, pokoknya.
Tahun 2017 rambut saya sudah panjang sempurna. Campuran ikal-bergelombang-lurus dikit itu tergerai dengan indahnya. Ada kepuasan tersendiri yang timbul dari gondrong ini. Terlebih ini adalah keinginan yang sudah kamu rencanakan. Rencana yang berjalan lancar itu memuaskan banget ternyata. Ditambah orang-orang jadi tertarik untuk gondrong padahal sebelumnya mereka pesimis.
POINT
Banyak yang saya dapat dari proses gondrong ini. Bahwa sukses itu menyenangkan. Euphoria yang kamu rasakan saat berhasil itu, adiktif sekali. Merencanakan sesuatu dan sukses, membuktikan bahwa kamu bisa. Semua orang bisa sukses. Tetap 'stick to the plan' dan hadapi semua rintangan sambil mengelus dada, tetap sabar, menyukai prosesnya, lambat laun akan membawamu pada tujuan / goal mu sendiri.
Dari gondrong saya tau bahwa saya bisa mencapai apapun.
fin.


Komentar
Posting Komentar