Review film: 30 Days of Night



Saya sudah, mungkin, 4 kali nonton film ini. Dan masih seru menurut saya. Bercerita tentang vampire yang datang entah dari mana, yang membantai, memakan warga kota di alaska.

Entah kenapa film ini kurang mendapatkan apresiasi. Padahal menurut saya, jalan ceritanya  bagus. Tidak keluar jalur. Mereka para warga kota kedatangan tamu di saat musim terburuk dimana matahari tidak bersinar selama 30 hari. Mereka harus bertahan hidup selama itu.

Kalau soal bagian datang entah dari mana itu, malah membuat film ini makin mencekam. Karna tidak terduga. Para warga awalnya tidak percaya mitos kalau vampire itu ada, tau-tau muncul mendobrak kaca pas lagi makan malam. Kan kaget gitu. Tapi ada hal yang saya juga baru ngeh. Mereka kan di Alaska tuh? Kenapa vampirnya, di kemunculan perdananya itu malah pakai suit alias setelan? Habis menghadiri nikahan siapa neh? Nggak dingin? Kenapa jauh banget di Alaska? Itu yang masih misteri.

Dan lagi gore-nya itu nggak lebay, pas. Mampulah membuat meringis. Bagaimana vampir-vampir berburu dan menyiksa korban juga sadis dan bengis.

Penggambaran vampirnya juga beda dari film-film vampir yang pernah saya tonton. Tidak lentik macam Twilight. Tidak fancy macam Van Helsing. Tidak bersuara berat macam Blade. Tapi mirip-mirip zombie gitu. Mata nggak ada putihnya, kuku panjang, dan perangainya; bagaimana mereka bertingkah itu zombie banget. Gigi runcing semua dari yang biasanya cuma taring saja. Tapi bedanya mereka masih punya otak, dan terorganisir.

Mungkin ya, itu juga yang mempengaruhi penilaian buat film ini.

Tapi, overall, film ini seru. Perasaan saya masih sama saat menonton pertama kali.


Score: 7.7

Komentar

Postingan Populer