Review Film: The Ballad of Buster Scruggs

impawards.com


Setelah nonton film ini, saya jadi ingat salah satu film Spanyol berjudul Wild Tales, yang berisi banyak cerita/ segmen dalam satu film. Sama seperti Wild Tales, The Ballad of Buster Scruggs juga berisi banyak kisah. Kisah pertama di buka dengan  cerita tentang seorang cowboy yang jago menembak dan jago bernyanyi, bernama Buster Scruggs. Kisah kedua bercerita soal  perampok bank yang lolos dari hukuman gantung karena "diselamatkan" suku indian. Kisah ketiga bercerita  tentang seorang pria difabel yang jago narasi, dan bersama temannya membuat pertunjukan. Tetapi lambat laun pertunjukkannya sepi penonton karena makin lama makin membosankan. Kisah keempat bercerita soal pria lanjut usia yang menemukan banyak bongkahan emas di tepi sungai. Kisah kelima bercerita soal seorang perempuan dalam rombongan kereta karavan kuda yang harus membayar seorang penjaga kereta ketika dia tidak punya uang, yang kemudian ditolong oleh seorang sherif, namun berakhir tragis, yap tragis. Seharusnya tidak berakhir seperti itu. By the way, kisah ketiga juga. Lalu kisah keenam bercerita soal 3 penumpang kereta kuda yang satu kereta dengan duo pembunuh bayaran.

Setiap kisah sebenarnya tidak berhubungan. Tetapi saya menemukan bahwa di kisah kedua dimana suku indian yang "mengagalkan" eksekusi gantung dari si perampok bank, hadir juga di kisah keempat. Mungkin. Soalnya saya melihat pakaiannya sama. 

Konsep film seperti ini unik sih menurut saya, karena seperti menonton banyak film sekaligus. Ibaratnya petugas CCTV yang memonitor banyak layar. 

Selain itu tiap kisah menggunakan visualisasi halaman buku bergambar layaknya buku anak-anak klasik. Hal tersebut membuat kita seperti membaca halaman demi halaman buku tua dimana tulisan demi tulisan kisahnya divisualisasikan kemudian. Dan tiap kisah juga unik. Dan ada yang berakhir miris juga tragis. 

Disatukan oleh dua poin utama yaitu kematian dan latar Amerika zaman koboi. Menyajikan kisah old west dalam berbagai sudut pandang dengan kematian sebagai roda penggerak tiap segmen. Di film sebelumnya juga, No Country for Old Men, Coen Brothers sang sutradara, mengusung tema latar yang sama.
Konon, film ini awalnya dijadikan proyek miniseri untuk Netflix sebelum akhirnya diputuskan menjadi sebuah film antologi. 

Komentar

Postingan Populer