Review Film: Glass (2019)

poster design by LA


Kesampingkan kritik dari para kritikus. Ini film yang diramu dengan baik, dan di-direct sangat rapi oleh sang sutradara, M. Nigth Shyamalan. Cocok memang kalau ini disebut film superhero yang lebih membumi.

Ada baiknya kamu menonton Unbreakable dan Split sebelum menonton Glass. Karena ini adalah film ketiga dari trilogy film superhero ala Shyamalan. Supaya 'feel'nya dapet.

Setelah menjebloskan Elijah Price alias Mr. Glass (Samuel L. Jackson) ke pusat rehabilitasi, David Dunn (Bruce Willis) melanjutkan perannya sebagai 'vigilante', menumpas kriminalitas di kotanya. Patricia, Dennise, dan Hedwig, tiga dari 24 kepribadian Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) masih melakukan penculikan gadis-gadis remaja. Hal itu diketahui Dunn. Dunn pun mencoba mencari dan menghentikannya. Tetapi, ketika Dunn dan The Beast hendak bertarung, mereka dihentikan oleh polisi, dan ditangkap untuk kemudian dimasukkan ke pusat rehabilitasi yang sama dengan Mr. Glass.

***

Superhero tak harus dari hasil kejadian laboratorium atau genetik atau mutan dan lain sebagainya. Itu yang coba diungkap oleh trilogy ini. Mengekspos potensi besar manusia; apa yang terjadi ketika manusia menenembus batas evolusi mereka.  Masih berdasar pada sains, yang dibumbui sedikit. Itulah kenapa ini adalah film superhero yang lebih membumi. Karena masih lebih masuk akal tentang bagaimana mereka mendapat kekuatan. Tanpa maksud menjelekkan film superhero lain keluaran Marvel dan D.C.

Film Glass enggak hanya menyatukan tiga karakter utama, tapi juga tiga karakter pendukung. Kalau kalian masih ingat dengan anak dari David Dunn di film Unbreakable, Joseph Dunn (Spencer Treat Clark), dia juga memainkan peran anaknya versi dewasa. Glass juga memunculkan Mama (Charlayne Woodard) dari Elijah Price, dan Casey (Anya Taylor-Joy) dari film Split. Film ini benar-benar layaknya reuni karakter dari tiga film. Termasuk, hadirnya Shymalan sebagai cameo.

Karena banyaknya adegan kilas balik, jadi lebih baik kalian tonton lagi dua film sebelumnya supaya bisa mengikuti alurnya.

Glass menghadirkan pengalaman nonton yang unik dengan menggunakan teknik shoot natural, sesuai dengan pandangan mata, dimana kalian diajak menatap sang tokoh layaknya kalianlah yang sedang diajak berbicara. Ini sepertinya ciri khas dari sang sutradara. Karna hampir semua filmnya menggunakan teknik ini.

***

Banyak kritikus yang bilang 'ending'nya antiklimaks. Saya setuju sih sebenarnya. Tapi kalau Shyamalan mau melanjutkkan,  sehingga menjadi superhero universe versinya dia sendiri, saya yakin pasti bakalan keren. Mungkin bisa menyaningi, universe yang sudah ada? Bisa jadi spectacular, seperti yang ibunya Elijah bilang.

Komentar

Postingan Populer